Hemopoesis adalah proses pembuatan darah. Sebagaimana diketahui, darah terbagi atas:
Bagian yang Berbentuk (formed elements). Terdiri atas sel-sel darah merah (eritrosit), sel-sel darah putih (leukosit) dan keping-keping darah (trombosit; platelet) yang hentuknya dapat dilihat dengan mikroskop.
Bagian yang Tidak Berbentuk. Plasma yang terdiri atas molekul-molekul air, protein-protein, lemak, karbohidrat, vitamin-vitamin, enzim-enzim dan sebagainya, yang larut dalam plasma.
Yang dibicarakan dalam bab
ini hanyalah proses pembentukan sel-sel därah (bagian ke-1 yaitu formed elements). Akan dibahas 3 komponen (kompartemen) yang berperan penting pada hemopoesis, yaitu:
• Kompartemen sel-sel darah
• Kompartemen lingkungan-mikro
• Kompartemen zat-zat pemicu/perangsang (stimulator) hemopoesis

KOMPONEN-KOMPONEN HEMOPOESIS
Hemopoesis adalah suatu proses yang kompleks yang melibatkan banyak komponen –  komponen yang saling terkait antara lain:
1. Komponen atau Kompartemen yang terdiri atas sel-sel darah baik sel-sel induk, sel-sel bakal dan sel-sel matur.
2. Komponen atau Kompartemen yang disebut stroma atau Iingkungan mikrohemopoetik (LMH) atau hemopoetic-micro-environment.
Komponen 1 dapat dianggap sebagai benih sedangkan komponen 2 dapat dianggap sebagai tanah di mana benih itu tumbuh. Kedua kompartemen mi tidak sendiris endiri tetapi berbaur.
3. Komartemen ke-3 terdiri atas zat-zat yang dapat menstimulasi sel-sel darah untuk berproliferasi, berdiferensiasi dan/atau berfungsi sesuai dengan tugas yang sudab direncanakan. Komponen mi disebut hemopoetic growth factors (HGF) atau faktor pertumbuhan hemopoetik (FPH).
I. KOMPARTEMEN SEL-SEL DARAH
Kompartemen sel darah terdiri atas:
A. Sel Induk Pluripoten (SIP)
Menurut teori unitarian, sel-sel darah berasal dan satu sel induk pluripoten (Pluripotent Stem Cells). Sel-sel mi jumlahnya sedikit, namun mempunyai kemampuan besar berproliferasi berkali-kali sesuai kebutuhan.
Pengenalan SIP
ini dipelopor oleh Till dan Mc Culloch pada tahun 1960-an dengan penelitiannya yang menggunakan teknologi pembiakan in-vivo pada tikus. Mereka menamakan SIP itu sebagai CFU-S (Colony Forming Unit Spleen). Selanjutnya Dexter pada dekade berikutnya mengembangkan suatu media pembiakan yang baik untuk pembiakan in-vitro dan SIP mi (DexterC ulture). Media ini mengkaitkan juga pentingnya LMH sedemikian sehingga CFU-S ini dapat hidup lama dan dinamakan Long Term Culture Initiating Cells (LTC-IC). Dalam media Dexter terdapat sel-sel lingkungan mikro yang menghasilkan stimulator-stimulator pertumbuhan hemopoesis yang disebut Hemopoetic Growth Factors (HGF) ataujuga Colony Stimulating Factors (CSF) yang dapat menstimulasi koloni-koloni sel-sel bakal darah untuk terus berprolifrerasi dan berdiferensiasi sesuai jalur turunannya (lineage)nya..
Dengan majunya ilmu imunologi ditemukan teknologi hibridoma yang memungkinkan kita membuat antibodi monoklonal (MonoctonalAntibodi) (MoAb) dalam jumlah hanyak: kemudian di kembangkan penemuan-penemuan petanda-petanda imunologis di permukaan sel-sel darah yang dinamai menurut sistem CD (Cluster of Differentiation). Petanda-petanda ini dapat dideteksi dengan MoAb dan dengan teknik imunohistokimia atau flow cytometry.

SIP mempunyai petanda imunologis CD-34. Selain itu juga belum didapatkan petanda yang mengarah ke suatu jalur turunan yang lain. I-ILA-DR sering masih negatif, sehingga balk sekali untuk pencangkokan sumsum tulang (PST) yaitu pencangkokan SIP (Stem Cell Transplantation).

B. Set Bakal Terkait Tugas (SBTT) atau Comitted Progenitor Hemopoetic Cells
Dengan stimulasi faktor pertumbuhan yang berasal dan LMH yang dinamakan faktor sel induk (Stem Cell Factor = SCF). SIP dapat berdifferensiasi menjadi sel-sel bakal darah yang terkait tugas (SBTT) yang terkait pada tugas menurunkan turunan-turunan sel-seldarah, yaitujalur-jalur turunan mieloid dan makrofag disebut colonvforrning unit granulocyte,erthrocyte, megakaryocyte,mononocyte (CFU – GEMM) dan jalur turunan limfosit (Lymphoid Progenitor Cells = LPC).
SBTT yang bertugas menurunkan sistem granulosit, eritrosit, monosit/makrofag dan megaka
riosit dalam teknologi pembiakan pada tikus disebut CFLJ-GEMM.
CFLJ-GEMM ini distimulasi oleh GEMM-CSF untuk berdiferensiasi menjadi CFU-G, CFU-M. CFU-Meg dan CFU-E (metalui BFU-E = Burst Forming Unit Erythrocvte). Seterusnya CFU-G distimutasi G-CSF; GM-CSF dapat menstimulasi CFU-G dan CFU-MK manjadi sel-set yang lebih Wa (sel-sel matur).

C. Sel-sel Darah Dewasa
Subkompartemen ini terdiri atas golongan granulosit (eosinofi 1, basofi I, neutrofi I), golongan-golongan monosit, makrofag. trombosit, eritrosit dan limfosit B dan T .

II. KOMPARTEMEN LINGKUNGAN MIKRO HEMOPOETtK (LMH)
Di sumsum tulang sel-sel darah berada berbaur dengan kompartemen II yaitu jaringan lain yang terdiri atas kumpulan macam-macam sel dan matriks yang disebut stroma dan sumsum tulang.
Stroma terdiri atas bermacam subkompartemen yaitu fibroblas. adiposit, matriks
ekstraselular, monosit, makrofag dan sel-sel endotel yang dapat menghasilkan macam-macam zat yang dapat menstimulasi pertumbuhan sel-sel induk, selsel bakal, dan sel-sel darah yang lain. Zat-zat mi dinamakan colony stimulating factors (CSF) atau juga Hemopoetic Growth Factors (HGF). CSF yang merangsang pertumbuhan granulocyte disebut granulocyte colony stimulating factor (G-CSF), sedangkan yang monosit dan makrofag disebut Monocyte/Macrophage Colony Stimulating Factors (M-CSF). Zat-zat ini akan dibahas lebih Iengkap di bagian berikutnya dan bab ini.
Stroma yang terdiri atas fibroblas, monosit, makrofag, endotel dan sebagainya itu disebut juga sebagai lingkungan mikro hemopoetik (LMH). Jadi
jaringan LMH
ini seakan-akan merupakan tanah yang menghidupi Sel-sel induk dan sel-sel bakal yang dianggap sebagai benih di persemaian. Kalau stroma atau LMH ini rusak atau defisien maka pertumbuhan sel-sel darah akan terganggu (hipoplastik sampai aplastik). Awalnya sel-sel bakal darah melekat pada LMH melalui suatu molekul adhesi yang diproduksi oleh stroma, kemudian melalui interaksi antar sel matriks sel bakal dirangsang untuk berdifferensiasi dan berfungsi seperti yang sudah direncanakan.

KOMPONEN (KOMPARTEMEN) FPH (FAKTOR PERTUMBUHAN HEMOPOETIK), DISEBUTJUGA HGF (HEMOPOETIC GROWTH FACTOR)
Batasan: FPH adalah senyawa-senyawa yang dapat menstimulasi proliferasi, diferensiasi dan aktifasi fungsional dan sel-sel bakal darah.
FPH diproduksi oieh stroma (kompartemen II). Normalnya FPH hanya didapatkan dalam kadar sedikit di dalani darah. Awalnya orang membuat FPH dar
i sel-sel stroma yang dibiakkan (teknologi pembiakan). Dengan majunya ilmu biologi molekular gen-gen pada kromosom romosom yang menyandi FPH dapat ditentukan, lalu di klon dan dengan teknologi rekombinan dapat dibuat dalam jumlah banyak dan dipasarkan di seluruh dunia oleh industri farmasi sebagai senyawa-senyawa FPH (HGF).
Nomenklatur FPH menggunakan 3 cara yaitu:
• Memakai akhiran CSF seperti GM-CSF, G-CSF, M-CSF dan sebagainya.
• Memakai awalan IL (Interleukin=senyawa yang diproduksi suatu sel yang dapat mempengaruhi sel darah lain) seperti IL-i, IL-2 dst.
• Memakai naina-nama khusus seperti Stem-cell-factor (SCF), eritropoetin, trombopoetin dan seterusnya.
Stimulasi dapat berarti dua arah yaitu positif bila betul menstimulasi atau negatif bila ia
menghambat proses.
Senyawa-senyawa FPH mempunyai 3 sifat biologis, yaltu:
Pleiotrofi artinya satu FPH dapat menstimulasi beberapa sel-sel bakal; misalnya: IL-3 dapat menstimulasi CFU-G maupun CFU-E dan CPU-Meg, meskipun dalam derajat yang berbeda (Multi-CSF)
Redundansi artinya satu sel bakal dapat distimulasi oieh 2 FPH, misalnya:CFU-E dapat distimu
lasi oleh IL-3 maupun oleh E-CSF (eritropoetin) meskipun dalam derajat yang berbeda.
Transmodulasi reseptor artinya reseptor sel bakai Adapat pula berfungsi sebagai reseptor sel bakal B.
Hal
ini mempunyai arti klinis yang penting, karena dengan demikian berarti pengobatan dengan kombinasi FPH akan jauh iebih berhasil daripada dengan satu FPH (tentu bila ada indikasi), namun biayanya tentu lebih mahal juga. Proses produksi seianjutnya dan sel-sel darah seperti eritrosit, granulosit, trombosit, hmfosit (kompartemen I) tidak dibahas di bab mi. Proses mi di sebut j uga sebagai eritropoesis, granulopoesis, trombopoesis, limfopoesis dan seterusnya yang dapat terjadi di sumsum tulang maupun di sistem hemopoetik perifer. Makin lama makin banyak FPH baru yang ditemukan dan diproduksi.