Mendengar kata HIV memubuat kita menjauh dari  suatu virus dengan 3 huruf tersebut. memang dalam beberapa dekade terakhir HIV telah menjadi momok menakutkan didunia medis dan masyarakat umum. Orang-orang akan menjauh jika ada orang diantara mereka yang “divonis” HIV/AIDS.
Indonesia merupakan salah satu negara dengan penambahan kasus HIV/AIDS tercepat di Asia. Di Asia Tenggara, laju penambahan kasus di Indonesia adalah yang tercepat. Pada buan Juni 2010, jumah pengidap AIDS sebanyak 21.770 orang tersebar di 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota di Indonesia. Jumlah ini meningkat 1.206 kasus dibandingkan triwulan sebelumnya.
Proporisi cara penularan HIV/AIDS tertinggi di Indonesia adalah melalui hubungan heteroseksual (pria dan wanita), yaitu 49,3%. Cara penularan HIV/AIDS lain yang tinggi adalah melalui pengguna NAPZA jarum suntik sebesar 40,4%. Proporsi lain yang lebih rendah adalah LSL (lelaki yang suka berhubungan seks dengan lelaki) dan penularan ibu-bayi pada masa perinatal; masing-masing 3,3% dan 2,7%.urutan cara penularan tersebut berbeda dengan pada dekade laluu saat jalur transmisi terpenting adalah penggunaan narkotika suntik.
Kondisi ini menyebabkan pasangan dari ODHA (orang dengan  HIV/AIDS)ikut berisiko tertular HIV/AIDS; selain itu pasangan dari pengguna narkotika suntik dan pria LSL juga memiliki risiko sangat tinggi tertular HIV/AIDS. Pasangan dari ODHA, pengguna narkotika suntik, dan pria LSL juga merupakan kelompok risiko tinggi; mereka adalah kelompok inferior yang mendapatkan infeksi HIV/AIDS tanpa mengetahuinya, bukan akibat perbuatan yang berisiko tinggi menularkan HIV/AIDS.
Kelihatannya dari data diatas anak-anak bisa terkena HIV/AIDS?
Memang itulah yang terjadi, setiap tahunnya hampir 400 ribu anak-anak tertular virus HIV, kebanyakan berada di negara berkembang atau sedang. Pada tahun 2010, 250.000 anak dibawah usia 15 tahun meninggal karena sebab-sebab terkait HIV.
Dalam berita VOA yang berjudul “PBB Luncurkan Kampanye untuk Akhiri Penularan HIV pada Anak” menyebutkan bahwa para pejabat UNAIDS menjabarkan sekarang ini 3,4 juta anak dibawah usia 15 tahun mengidap HIV. Selain itu,sekitar 42.000 wanita meninggal setiap tahun akibat komplikasi terkait HIV dan kehamilan. Kalau sudah begini bagaimana nasib dari anak yang dikandung ibu penderita HIV/AIDS jika operasi sesar belum menjangkau semua lapisan masyarakat.

Pasangan Risiko Tinggi HIV/AIDS
Dari empat juta pengguna  NAPZA suntik yang hidup dengan HIV/AIDS di Asia, 25-60% telah menikah  atau memiliki pasangan wanita, artinya 25-60% dari empat juta pasangan beriksiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS. Sementara itu, 10 juta wanita pekerja seks dan 75 juta pengguna jasa pekerja seks reguler di Asia, masing-masing juga telah mempunyai pasangan intimnya masing- masing. Dari 16 juta pria LSL di Asian 10-60% pria LSL telah menikah atau memiliki pasangan intim regular.
Survei di India mendapatkan, dari 236 juta pasangan yang menikah pada usia produkti 1,18 juta terinfeksi HIV. Dari jumlah tersebut, terdapat 0,42 juta wanita terinfeksi HIV positif, 1,02 juta pria HIV positif dan 0,26 juta pasangan yang keduanya HIV positif; sekitar satu dari empat pasangan HIV yang telah menikah., keduanya terinfeksi HIV/AIDS. Sebagian besar wanita mendapatkan infeksi dari pasangan atau suaminya yang memiliki perilaku seks bebas atau pernah/sedang  menggunakan narkotika jarum suntik.
Di Indonesia sampai 30 Juni 2010, dari 32 provinsi yang melaporkan data terkait estimasi populasi rawan tertular HIV pada tahun 2009, terdapat total 105.784 pengguna NAPZA suntik dengan pasangan pengguna NAPZA suntik sebanyak 28.085 orang. Pelanggan WPS dan pelanggan warian dilaporkan sejumlah 3.241.244 orang, dengan pasangan pelanggan sejumlah 1.938.650 orang. Berdasarkan data tersebut diperkirakan 2 juta orang di Indonesia memiliki risiko tinggi tertular HIV/AIDS karena merupakan pasangan tetap dari kelompok risiko tinggi. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan data estimasi Depkes dan Biro Pusat Statistik Nasional tahun 2002, bahwa sekitar 7-9 juta laki-laki di Indonesia menggunakan jasa seks dan 50 persennya telah menikah sehingga sekitar 4 juta ibu rumah tangga terancam tertular HIV. Perbedaan ini dapat disebabkan oleh fenomena gunung es: jumlah orang yang dilaporkan jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah sebenarnya.
Berdasarkan estimasi Depkes dan KPAN, jumlah orang dengan HIV dan AIDS di Indonesia pada tahun 2006 sebanyak 193.030 orang, 11% diantaranya merupakan pasangan tetap pengguna NAPZA suntik  dan pengguna jasa pekerja seks komersial, sehingga sekitar 21 ribu pasangan tetap telah hidup dengan HIV/AIDS.
Walaupun saat ini epidemi HIV/AIDS di Indonesia masih dikuasai oleh pengguna narkotika suntik dan pengguna jasa seks komersial, diperkirakan dalam 15 tahun ke depan, prevalensi di kelompok pasangan tetap dari kelompok risiko tinggi juga akan meningkat signifikan.
Pasangan Pelaku Seks Bebas
Pelaku  seks bebas di Indonesia banya terdapat pada kelompok pria berisiko tinggi. Kelompok pria tersebut dapat menjadi jembatan penularan antara WPS (Wanita Pekerja Seks) dengan masyarakat umum. Pekerjaan seperti mengemudi truk, pelaut, tentara, dan pekerja migran  yang sering bermalam di tempat yang jauh dari rumah merupakan kelompok berisiko tinggi. Diperkirakan terdapat 8, 5 juta pria pengguna jasa seks komersial pertahunnya.
Berdasarkan Survei Tepadu Biologis Perilaku (STBP) 2007 terhadap empat kelompok pekerja pria, diketahui bahwa prevalensi HIV di kalangan pria berisiko tinggi sekitar 0,8% di Papua dan 0,0-0,8 % di propinsi lainnya . Sampel yang dipilih adalah supir truk (di Deli Serdang dan Batang), anak buah kapal atau ABK (di Batam, Medan, Semarang, Surabaya), pekerja pelabuhan (di Jakarta, Merauke, Sorong), dan tukang ojek (di Medan, Banyuwangi, dan Jayapura).
Beberapa temuan penting dari survei tersebut, antara lain supir truk dan anak buah kapal merupakan kelompok paling berisiko tinggi tertular HIV yang berasal dari hubungan seksual dengan WPS (wanita pekerja seks). Dari kelompok tersebut, 55-87% berstatus menikah. Pada kelompok kerja yang sama, pria yang berasal dari Papua lebih banyak kontak dengan WPS dan pasangan kasual (pasangan lain yang melakukan hubungan tanpa dibayar) dibandingkan dengan pria yang berasal dari propinsi lain. Penggunaan kondom konsisten pada pria berisiko masih rendah, dan sebagian besar tidak tahu bahwa penggunaan kondom dapat mengurangi risiko penularan HIV. Selain itu, keadaan diperburuk oleh kenyataan bahwa masih sedikit kelompok pria berisiko tinggi yang menjalani tes HIV.
Adanya penyedia jasa seks bebas (WPS) merupakan faktor penting penularan HIV/AIDS terhadap pria berisiko tinggi tersebut; pengetahuan mereka terhadap penggunaan kondom rendah, sama dengan pengetahuan para pria pengguna jasa mereka. Pengetahuan penggunaan kondom tersebut seharusnya lebih disosialisasikan untuk menekan laju penularan HIV/AIDS melalui jalur seksual.
Saat ini studi mengenai kondisi, pengetahuan, dan perilaku dari pasangan tetap pria berisiko tinggi masih sangat minim. Padahal dengan jumlah yang cukup besar tersebut, perhatian juga harus diberikan terhadap para pasangan tetap ini. Perusahaan atau instansi tempat bekerja diharapkan memberikan penyuluhan terhadap pasangan mengenai HIV/AIDS serta cara pencegahannya, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan kedua pasangan. Layanan konseling perubahan
perilaku juga perlu disediakan. Pemeriksaan kesehatan termasuk tes HIV secara rutin perlu diadakan di perusahaan tempat bekerja, berikut juga tindak lanjut yang tepat berupa pengobatan dan skrining bagi pekerja dan keluarganya. Selain itu hal yang sangat penting adalah promosi penggunaan kondom serta akses kondom gratis bagi para pekerja.
Pasangan pengguna narkotika suntik
Pengguna napza suntik (penasun) merupakan kelompok berisiko sangat tinggi terhadap penularan HIV karena perilaku penggunaan jarum suntik secara bergantian. Diperkirakan pada tahun 2006 di Indonesia terdapat 190.000-248.000 penasun. Survei terhadap enam kota di Indonesia mendapatkan 43-56% pengguna NAPZA suntik di empat kota telah terinfeksi HIV dan sebanyak 38-59% dari penasun memiliki pasangan tetap. pengguna NAPZA suntik juga melakukan hubungan seks
dengan banyak orang termasuk di antaranya pasangan tetap, pasangan tidak tetap, dan WPS; dan sebagian besar melakukannya tanpa menggunakan kondom.
Saat ini pemerintah telah menyediakan Program layanan jarum suntik (LJSS) dan program terapi rumatan metadon (PTRM) yang telah mencapai cakupan tinggi di beberapa kota. Progam ini berdampak baik berupa menurunnya pemakaian jarum suntik bergantian. Permasalahan saat ini antara lain masih kurangnya jumlah jarum suntik yang didistribusikan serta cukup banyaknya Pengguna NAPZA suntik yang kembali menyuntik narkotik setelah terapi rumatan metadon. Tes HIV terhadap Pengguna NAPZA suntik juga masih rendah, hanya kurang dari 30% melakukan tes HIV dalam setahun terakhir. Pengetahuan tentang HIV pada Pengguna NAPZA suntik cukup baik tetapi tidak mempengaruhi perilaku Pengguna NAPZA suntik.
Berdasarkan studi lain di tiga kota (Jakarta, Surabaya, Bandung) di Indonesia yang mempelajari perilaku seksual pada penasun, didapatkan bahwa hampir semua pengguna narkotika suntik mengetahui bahwa HIV dapat ditransmisikan lewat pemakaian bersama alat suntik, namun 85% pemakai menggunakan alat suntik secara bersama dalam satu minggu terakhir. Dalam hal ini, pengetahuan mereka tidak berbanding lurus dengan perilaku. Lebih dari dua per tiga aktif secara
seksual, 48% dilaporkan memiliki pasangan seks lebih dari satu dan 40% menggunakan jasa seks komersial dalam satu tahun terakhir. Tetapi hanya 10% yang menggunakan kondom secara
teratur.
Melihat kondisi di atas, di mana prevalensi HIV sangat tinggi pada pengguna NAPZA suntik, perilaku seks yang bebas, dan pemakaian kondom yang masih rendah, risiko terhadap pasangan tetap para penasun terinfeksi HIV/AIDS juga sangat tinggi. Saat ini upaya yang telah ada kurang menjangkau pasangan tetap tersebut, karena itu diperlukan upaya dan perhatian yang lebih besar. Pemberian informasi mengenai HIV/ AIDS terhadap pasangan tetap sangat diperlukan. Para pasangan tetap diharapkan aktif bekerja sama mendukung proses kesembuhan suami/ pasangannya serta aktif melindungi diri dari infeksi HIV dengan skrining dan penggunaan kondom secara teratur. Upaya ini juga perlu mendapat dukungan pemerintah.
Pasangan pria LSL
Lelaki yang suka berhubungan seks dengan lelaki (LSL) juga turut berperan dalam penyebaran HIV/AIDS di Indonesia. Di Indonesia diperkirakan pada tahun 2006 terdapat sekitar 384.320 sampai 1.149.270 LSL, dengan rata-rata 766.800 orang. LSL ini juga berperan dalam penularan terhadap
wanita, sehingga turut menjadi jembatan penghubung penularan virus HIV ke populasi yang lebih luas.
Berdasarkan survei tahun 2006 di enam kota di Indonesia (Medan, Batam, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Malang). LSL cenderung memiliki banyak partner seks, baik laki-laki maupun
perempuan, dan banyak di antara mereka juga membeli dan menjual seks. Sebanyak 87% LSL melakukan seks kasual dengan pasangan pria, dan 40% dengan pasangan wanita setahun sebelum survei ini. Sepertiga LSL melaporkan memiliki pasangan pria tetap dan 16% memiliki pasangan wanita tetap, dan 22% pasangan tetapnya memiliki pasangan lain. Jaringan ini meningkatkan risiko penularan HIV/ AIDS pada LSL dan pasangannya.
Pengetahuan mengenai kondom di populasi LSL cenderung menengah hingga tinggi. Namun, pengetahuan mengenai HIV secara umum serta pencegahannya melalui penggunaan
kondom masih rendah. Salah satu penyebab kurangnya pengetahuan dan perilaku terkait pencegahan HIV/AIDS adalah masih rendahnya penggunaan layanan konseling HIV/AIDS dan tes
HIV/AIDS di berbagai pelayanan kesehatan. Diperlukan penelitian lebih lanjut mengapa LSL tidak memanfaatkan layanan tersebut, terkait pula faktor stigma atau perlakuan diskriminatif.
Jaringan LSL yang luas dan rumit menyebabkan jangkauan kepada LSL saat ini masih sangat kurang, hal ini lebih mempersulit jangkauan terhadap pasangan dari LSL tersebut. Kesadaran pribadi pasangan LSL untuk meningkatkan proteksi diri dengan pemakaian kondom sangat diperlukan, begitu pula terhadap layanan konseling dan tes HIV. Tindakan umum pemerintah juga sangat diperlukan, berupa ditingkatkannya pemberian informasi dan pendidikan mengenai HIV/AIDS serta
adanya perlindungan hukum yang jelas terhadap hak wanita.
Dari epidemiologi yang telah dipaparkan secara panjang lebar, sudah semestinya kita mulai waspada terhadap terjadinya HIV/AIDS, walaupun bukan berarti kita harus menjauhi orang dengan HIV/AIDS.
Bagaimana H Virus HIV dapat menginfeksi manusia?
Penyebab Human Immuno-defi ciency Virus (HIV) adalah virus RNA famili Retrovirus, subfamili Lentiviridae. Sampai sekarang baru dikenal 2 serotipe HIV yaitu HIV-1 sebagai penyebab sindrom defi siensi imun (AIDS) dan HIV-2 yang dikenal sebagai Lymphadenopathy Associated Virus type-2 (LAV-2).Secara morfologik HIV-1 berbentuk bulat dan terdiri dari inti (core) dan selubung(envelope). Inti tersusun dari protein genom RNA dan enzim reverse transcriptase yang membuatnya mampu memperbanyak diri secara khusus, sedangkan selubung terdiri dari suatu glikoprotein.

Pada awal perjalanan infeksi HIV terjadi invasi cepat dan replikasi virus dalam jaringan limfoid saluran cerna (GALT = Gut Associated Lymphoid Tissue) diperantarai integrin α4β7 yang merupakan reseptor homing sel T. Ikatan protein gp120HIV dengan reseptor integrin α4β7 sel T-CD4 akan memicu pembentukan formasi sinaps dengan sel berdekatan yang memudahkan penyebaran HIV dari sel ke sel secara efi sien.Terjadi penyebaran HIV langsung ke jaringan limfoid saluran cerna. Selanjutnya HIV akan memediasi deplesi sel T-CD4 sehingga terjadi disfungsi sistem imun. Kemampuan virus untuk berikatan dengan integrin α4β7 akan menentukan besarnya dampak terhadap jaringan limfoid saluran cerna dan deplesi sel T-CD4.
Reproduksi virus terjadi secara cepat dalam 2-6 minggu sesudah pajanan, menimbulkan gejala klinis menyerupai penyakit mononukleosis akut (acute mononucleosis like illness) seperti demam, nyeri kepala, lesu, ruam kulit, dan limfadenopati. Masa inkubasi berkisar 17-35 hari dan gejala klinis berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Gejala klinis infeksi primer tidak terlihat pada bayi mungkin karena transmisi prenatal, perbedaan beban transmisi virus atau fenotip atau karena imaturitas responimun. Selain itu bayi yang lahir dari ibu pengidap HIV telah mempunyai antibodi
spesifi k HIV yang dapat mengurangi gejala klinis.
Fase penyakit akut berhubungan dengan tingginya viremia dan luasnya penyebaran virus terutama ke jaringan limfoid dan organ lain seperti SSP, ditandai dengan ditemukannya RNA HIV yang dapat  mencapai kadar 1.000.000 kopi virus/mL dan antigenemia p24. Beban virus (viral load) yang tinggi ini menetap dalam jangka panjang pada anak yang terinfeksi pada masa prenatal sehingga virologic point pada anak cenderung lebih tinggi.
Dalam 1-2 minggu akan terbentuk respon imun CTL dan antibodi, terjadi penurunan dramatis viral load. Hal ini berhubungan juga dengan terperangkapnya kompleks imun virus-antibodikomplemen
dalam sel dendrit folikular (FDC). Dengan menurunnya virus dalam sirkulasi, dapat terjadi pemulihan
parsial hitung sel T-CD4. Konsentrasi plasma virus pada akhir fase akut merupakan set point yang berhubungan dengan perjalanan penyakit infeksi HIV. Set point yang tinggi berhubungan dengan cepatnya perjalanan penyakit.
Fase laten asimptomatik pada dewasa dapat bertahun-tahun setelah infeksi primer. Pada sebagian anak umumnyafase laten lebih singkat atau tanpa fase laten sama sekali dengan kerusakan progresif sel T-CD4 dan jaringan sel FDC kelenjar limfoid.
Pengobatan HIV/AIDS dan Pencegahannnya?
Rekomendasi antiretroviral menggunakan 2 Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NRTI) + Non-nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI)
Langkah:
·         Pilih 1 NRTI untuk dikombinasi dengan 3 TC
·         Pilih NNRTI
Golongan NRTI
·         Zidovudine (AZZT)
·         Stavudin (d4T)
Golongan NNRTI
·         Nevirapin
·         Efavirenz
Tetapi sepertinya sudah terdapat penelitian terbaru untuk penggunaan obat pencegahan yang baru saja ditemukan seperti yang dilaporkan VOA berjudul “Orang Sehat Bisa Gunakan Obat AIDS untuk Pencegahan AIDS”  tanggal 27 Mei 2012 dan “Pil Truvada Diyakini Bisa Cegah Penularan HIV” yang diberitakan tanggal 16 Mei 2012.
Pil Truvada  sudah didukung oleh Komisi Penasihat Obat-obatan Antivirus pada Badan Pengawas Obat-obatan dan Pangan (Food and Drugs Administration  /FDA). Seperti yang dikemukakan oleh Mitchell Warren, ketua kelompok advokasi AIDS, AVAC bahwa pil Truvada terdiri dari dua obat antiretroviral yang berbeda yaitu tenofir dan emtrisitabin.
Untuk pertamakalinya FDA mempertimbangkan sebuah pil untuk  mencegah HIV. Data yang diperoleh berasal dari sejumlah ujiciba untuk melihat kemungkinan manfaat pil Truvida kepada orang yang tidak terinfeksi HIV, akan tetapi berisiko terkena HIV dengan harapan bisa mencegah penularan virus itu.
“Jika orang berisiko terkena atau merasa terkena HIV, minum pil ini setiap hari sebagai bagian dari beerbagai usaha pencegahan, termasuk pemeriksaan rutin HIV, orang bisa banyak mengurangi risiko penularan. Ini merupakan langkah besar ke depan dalam menambah opsi baru bagi laki-laki dan perempuan untuk mencegah HIV,” tambah Warren.
Seperti yang sudah diketahui di bidang medis, penderita HIV/AIDS tidak segera diobati setelah mereka tertular. Sebaliknya, prosedur yang umum adalah menunggu sampai ssel kekebalan yang biasa diserang oleh virus HIV yaitu CD4 mencapai tingkat tertentu atau gejala lain mulai terjadi.
Oleh karena masalah inilah, para peneliti di Universitas Amsterdam menduga bahwa dengan memulai pengobatan singkat segera seelah penularan HIV diidentifikasi justru akan mempersiapkan sistem kekebalan tubuh penderita untuk melawan virus.
Peneliti Marlous Grijsen mengatakan bahwa mereka yang langsung diberi obat tidak mengalami efek samping yang signifikan.
Para peneliti menunggu sampai pedoman standar mengatakan pasien harus memulai pengobatan antiretroviral, berdasarkan jumlah CD4 yang rendah, misalnya, yang menunjukkan bahwa sistem kekebalan tubuh penderita melemah ke tingkat yang lebih berbahaya.
Kelompok yang tidak langsung mendapatkan obat setelah tertular membtuhkan antiretroviral sekitar delapan bulan kemudian. Sementara kedua kelompok yang diberi obat mampu menunda pengobatan kembali antara satu sampai dua setengah tahun.
Peneliti lain, Jan Prins, mengatakan pengobatan dini itu membantu mengekang virus.
Penderita yang mendapat pengobatan dini terbukti memiliki respon yanglebih baik melawan HIV. Jumlah virus dalam darah lebih rendah pada penderita yang diobati lebih dini.
Sepertinya pil Truvada telah menjadi harapan baru dalam mencegah terjadinya HIV/AIDS. FDA mengharuskan perusahaan pembuat obat itu, Gilead, melakukan evaluasi efek samping dan strategi untuk menguranginya. Ini akan membantu menjamin keamanan dan kemanjuran penggunaan Truvada, termasuk penyuluhan ekstensif bagi para petugas kesehatan dan uji coba untuk memastikan orang memang tidak tertular HIV sebelum meminum pil itu.
Para peneliti menambahkan bahwa penderita yang memulai pengobatan antiretroviral sementara membutuhkan waktu pengobatan lebih singkat dan lebih murah.
Maka dari itu sebelum mengantisipasi adanya penularan HIV/AIDS maka pihak berwenang di federal Amerika didesak untuk menyetujui pengetesan HIV di rumah. Hal ini termuat dalam berita VOA tanggal 27 Mei 2012 “Pakar Anjurkan Penggunaan Alat Tes HIV di Rumah” , mungkin hal ini membantu terhadap  pencegahan penularan HIV/AIDS dengan menggunakan alat tes yang dinamakan Ora Quick. Alat ini memiliki hasil intrepetasi dengan benar pada 93% penderita HIV.
OraQuick menggunakanalat yang digosokkan di mulut dan hasilnya diperoleh dalam waktu 20 menit.
Seperti daftar epidemiologi yang sudah dijelaskan diatas, anak-anak termasuk kelomok rentan terjadinya HIV/AIDS karena penularan dari ibu. Maka dari itu Pertmuan Tingkat Tinggi PBB mengenai AIDS meluncurkan kampanye Believe It. Do It dalam berita VOA yang berjudul “PBB Luncurkan Kampanye untuk Akhiri Penularan HIV pada Anak”.  Hal ini bertujuan untuk mengakhiri penularan HIV pada anak-anak pada tahun 2015.
Kampanye Believe It. Do It diluncurkan menjelang Hari Ibu, dengan gagasan bahwa setiaphari adalah hari Ibu.Partisipannya mencakup seluruh negara, baik maju maupun berkembang.
Penasihat senior dari UNAIDS mengenai kesehatan ibu dan anak mengatakan bahwa sudah ada pengetahuan, keterampilan dan sumberdaya yang memadai untuk mengakhiri sebagian besar penularan HIV dari ibu ke anak. Ia mengatakan tanpa obat retroviral, tingkat penularan HIV dariibu ke bayi pada ersalinan mencapi 40 persen. Dengan perawatan menggunakan obat antiretroviral , angka tersebut turun menjadi hanya 2 persen.
Direktur Eksekutif UNAIDS Michel Sidibe menyabut Rencana Global untuk mengakhiri penularan HIV pada anak-anak merupakan peluan yang luar biasa, tetapi ia memperingatkan bahwa dukungan masyarakat sangat diperlukan.
Strategi pencegahan pada pasangan tetap ODHA di Indonesia
Berdasarkan data di atas, pasangan dari orang yang berisiko tinggi terkenaHIV/AIDS merupakan kelompok risiko tinggi tertular HIV/AIDS. Jumlah mereka sangat besar secara epidemiologiSosialisasi dan perlindungan terhadap kelompok ini sangatlah penting. Sayangnya, perhatian terhadap kelompok “ibu rumah tangga” dan “istri tanpa perilaku risiko tinggi” masih sangat kurang. Selama ini sebagian besar kegiatan promosi kesehatan banyak berfokus pada pelaku seks bebas dan pengguna narkotika suntik. Dengan demikian, tingkat kewaspadaan kelompok pasangan tetap masih sangat rendah.
Beberapa strategi dapat dilaksanakan untuk menekan angka penularan HIV/AIDS pada kelompok pasangan. Beberapa di antaranya mirip dengan strategi pencegahan seks bebas pada umumnya. Dukungan dan komitmen yang kuat dari pemerintah, LSM (lembaga swadaya masyarakat), klinisi, ahli kesehatan masyarakat, dan tokoh masyarakat sangat diperlukan untuk menyadarkan kelompok pasangan agar mewaspadai penularan melalui pasangannya.
Saat ini, sudah dikeluarkan rencana strategis (2003-2007) dan rencana aksi nasional (2007-2010, 2010-2014) dalam rangka menekan laju penyebaran HIV/ AIDS di Indonesia. Di dalam strategi tersebut, perhatian ditujukan bagi pelaku primer penularan HIV/AIDS, yaitu pelaku seks bebas, pemakai jarum suntik, dan LSL. Beberapa program yang sudah ada, antara lain pencegahan penularan melalui alat suntik (layanan alat suntik steril atau LASS), terapi rumatan metadon, programprogram di lembaga pemasyarakatan pencegahan penularan melalui transmisi seksual melalui promosi kondom dan layanan infeksi menular seksual, program pencegahan penularan HIV
melalui ibu ke bayi (PMTCT), konseling dan testing sukarela (voluntary counseling and testing), dan program perawatan dukungan dan pengobatan.
Meskipun beberapa strategi yang disebutkan di atas memiliki efek tidak langsung terhadap pasangan tetap para pelaku primer, namun belum ada program yang secara spesifi k ditujukan langsung bagi populasi tersebut. Padahal, diperkirakan jumlah populasi pasanganakan meningkat secara signifi kan.
Hal ini menuntut agar populasi tersebut mendapatkan program-program serta kebijakan yang lebih efektif. Beberapa strategi yang dapat disarankan untuk mencegah dan menurunkan penularan HIV/AIDS pada pasangan orang berisiko tinggi adalah sebagai berikut:
1. Strategi yang merupakan prioritas sampai saat ini memang melakukan pencegahan penyebaran HIV terutama terhadap kelompokkelompok berisiko tinggi seperti pekerja seks, pengguna narkotika
suntik, serta LSL, dengan memperluas dan memperkuat strategi untuk turut mencapai pasangan tetap mereka. Peraturan penggunaan kondom harus diperketat, melihat data penggunaan kondom
yang masih sangat minim. Terutama di tempat-tempat yang berpotensi menjadi penjualan jasa seks, harus disediakan kotak kondom gratis dengan kualitas kondom yang baik. Pemerintah juga harus membuat regulasi publik mengenai penggunaan kondom ini terutama pada kelompok yang berisiko tinggi tersebut dan juga pasangannya. Selain peraturan yang tegas juga diperlukan pendidikan dan informasi khususnya pada kelompok risiko tinggi tersebut mengenai bahaya penularan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya dan bagaimana cara pencegahan serta pemeriksaan dini. Perlu juga dilakukan pelatihan bagaimana cara pemasangan kondom yang benar, karena diketahui tingginya tingkat kebocoran kondom pada populasi tersebut yang cukup tinggi yang dapat mengakibatkan semakin besarnya penularan.
2. Pendidikan, pelatihan serta pemberian informasi sebaiknya juga dilakukan ke masyarakat luas, misalnya diikutkan dalam kurikulum pendidikan nasional di kalangan remaja dan dewasa muda (pendidikan seksual di SD, SMP, atau SMA). Hal ini diperlukan karena saat ini pendidikan seksual belum dimasukan ke dalam kurikulum secara nasional. Atau melalui media elektronika mengenai HIV/AIDS termasuk sosialisasi penggunaan pengaman (kondom). Data UNAIDS menyatakan bahwa penggunaan kondom terbukti sebagai satu-satunya cara mencegah transmisi infeksi menular seksual termasuk HIV/AIDS. Penggunaan kondom juga dapat hampir 100% mencegah transmisi infeksi menular seksual, di samping abstinen (tidak melakukan hubungan).
Perlu diingat bahwa tingginya jenjang pendidikan dan kelas sosialekonomi, tidak menjamin sedikitnya penggunaan jasa pekerja seks komersial; penelitian di Hanoi, Vietnam menunjukkan makin tinggi status sosial pria di masyarakat, makin tinggi frekuensi menggunakan jasa pekerja seks komersial. Tetapi angka penggunaan kondom pria mapan lebih tinggi daripada siswa dropout sekolah (84% berbanding 63%).
3. Layanan pemerintah untuk pasien-pasien ODHA seperti Layanan Konseling & Tes Sukarela (VCT),
Pelayanan, Dukungan & Perawatan (CST), Layanan Infeksi Menular Seksual (IMS), Layanan Alat Suntik Steril (LASS), Layanan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM), serta layanan lainnya baik dari pemerintah atau non-pemerintah, juga menjaring pasangan pasien ODHA terutama dalam hal edukasi dan informasi terutama mengenai pentingnya pencegahan penularan misalnya dengan menggunakan kondom secara teratur, mendapatkan akses kondom gratis, serta saran untuk melakukan pemeriksaan gratis.
4. Perlunya Undang-Undang praktik kedokteran yang melindungi para pasangan tetap penderita ODHA: pasangan tetap berhak mengetahui status ODHA pasangannya; dokter seharusnya memberitahukan masalah ini ke pasangannya.
5. Skrining penyakit infeksi menular seksual pranikah (atau prahubungan seksual). Skrining memiliki efektivitas sangat baik dalam mencegah penularan penyakit infeksi menular seksual; namun kelemahannya adalah tindak lanjut jika hasil skrining positif. Dapat timbul masalah, baik dalam hubungan antara pasangan, maupun keluarga masing-masing. Melalui skrining, dapat diketahui penyakit-penyakit menular yang diidap pasangan, misalnya HIV/ AIDS, hepatitis B, hepatitis C, gonorea, dan sifilis.
6. Pentingnya keterlibatan perusahaan tempat kerja para pekerjarisiko tinggi seperti supir truk, pelaut, tentara, dan lainnya, untuk menyediakan program khusus di tempat kerjanya yang menjangkau pasangan. Di antaranya meliputi penyuluhan/seminar terhadap pekerja dan pasangan mengenai HIV/AIDS serta infeksi menular seksual, pelayanan konseling perubahan perilaku, tes HIV dan pemeriksaan kesehatan secara rutin, promosi dan layanan kondom gratis, serta konsultasi dengan dokter keluarga atau bidan menyangkut masalah reproduksi. Data MAP (Monitoring of AIDS Pandemic), mendapatkan 40-70% pria pengguna jasa seks adalah pria yang memiliki pasangan tetap. Hal ini membuat penularan HIV/AIDS menjadi cukup tinggi pada pasangan dari pria risiko tinggi tersebut.
7. Kewaspadaan dini dan tindakan aktif dari pasangan tetap para pelaku risiko tinggi (pelaku seks bebas, pengguna narkoba suntik, dan pria LSL). Kurangnya program dari pemerintah memerlukan kewaspadaan dari pasangan untuk melindungi diri terhadap infeksi HIV/AIDS, dengan menggunakan kondom secara rutin, mencari informasi secara aktif, pemeriksaan kesehatan, dengan tetap meningkatkan komunikasi dan dukungan terhadap pasangannya.
8. Pemeriksaan kesehatan dan penyakit menular bagi mantan pengguna narkotika suntik dan pelaku seks bebas. Pemeriksaan diri sendiri wajib dilakukan oleh setiap orang yang pernah terlibat, baik dalam kegiatan seks bebas, narkotika jarum suntik, LSL, mantan penghuni penjara, asrama, atau barak di mana orang-orang berisiko tinggi terkena penyakit menular seksual.
Sampai saat ini, belum ada program atau undang-undang pemerintah Indonesia yang secara tegas melindungi para pasangan tetap orang-orang berisiko tinggi dari risiko penularan HIV/AIDS. Undang-undang yang telah ada saat ini adalah mengenai usia pernikahan yang legal secara hukum, HAM, serta kesetaraan gender yang hanya digambarkan secara umum. Selain itu belum ada undang-undang khusus mengenai tes HIV, diagnosis, pengobatan, serta perawatan terhadap penderita HIV. Sebagai saran, perlu integrasi berbagai bidang terkait (pemerintah, klinisi, ahli kesehatan masyarakat, ahli hukum, tokoh masyarakat, tokoh agama, sosiolog) untuk merumuskan rekomendasi dan perlindungan bagi pasangan tetap orang berisiko HIV/AIDS. Penelitian efektivitas masing-masing strategi juga perlu dilakukan untuk mengetahui prioritas program pencegahan penularan HIV/AIDS terhadap pasangan tetap.
Kesimpulan
Pasangan tetap ODHA adalah kelompok risiko tinggi tertular HIV/AIDS. Saat ini, kelompok tersebut tidak menjadi sasaran promosi kesehatan, meskipun jumlahnya semakin bertambah. Perhatian pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan klinisi hanya terpusat pada pelaku seks bebas dan pengguna narkotika jarum suntik. Beberapa contoh mereka adalah pasangan tetap pelaku seks bebas, pasangan tetap pengguna narkotika jarum suntik, dan pasangan tetap pria LSL. Masing- masing kelompok memiliki peluangnya sendiri-sendiri dalam tertular HIV/AIDS. Beberapa strategi ke depan untuk mencegah penularan HIV/ AIDS adalah skrining infeksi menular seksual pranikah atau pra-hubungan seksual, pendidikan seksual, sosialisasi penggunaan pengaman (kondom) saat berhubungan seksual, keterlibatan perusahaan dengan pekerja risiko tinggi, kewaspadaan dini pasangan, pemeriksaan kesehatan berkala, dan pendidikan/kursus pranikah. Permasalahan pasangan tetap ODHA merupakan tanggung jawab pemerintah, klinisi, ahli kesehatan masyarakat, serta tokoh agama dan masyarakat.
Di masa depan, kita wajib memikirkan inovasi strategi untuk mencegah penularan bagi kelompok ini. Penelitian mengenai kondisi, pengetahuan, perilaku, dan hal-hal lain terkait stigma serta perlakuan terhadap para pasangan tetap perlu dilakukan. Selain itu, penelitian mengenai efektivitas masing-
masing strategi perlu dilakukan sebagai bahan evaluasi program kesehatan di berbagai golongan tertentu (misalnya pada suku atau budaya tertentu, atau agama tertentu).
Peraturan mengenai hak dan kewajibanuntuk mendapat informasi medis berkaitan dengan diri dan pasangannya perlu dibuat agar menjamin kebebasan tenaga kesehatan dalam menyampaikan informasi penyakit menular seksual yang diidap oleh salah satu pasang. Selain itu, hal yang juga penting adalah perlu dibuatnya peraturan perundang-undangan yang secara tegas melindungi para pasangan tetap ODHA di Indonesia.
 Ya dengan beberapa penemuan dibidang pengobatan, kampanye Believe It.Do It, dan strategi pencegahan dini HIV/AIDS dapat terwujud dan mewujudkan masyarakat dunia yang sehat dan bebas dari HIV/AIDS.
Sumber:
Noviani Sugiarto. Penyebaran HIV/AIDS pada Pasangan ODHA di Indonesia. Cermin Dunia Kedokteran Januari-Februari 2011.
Yuly. Aspek Klinis HIV. Cermin Dunia Kedokteran Januari-Februari 2011.
Orang sehat Mungkin Bisa Gunakan Obat AIDS untuk Pencegahan AIDS, 27 Mei 2012 VOA Indonesia
Pakar Anjurkan Penggunaan Alat Tes HIV di Rumah, 27 mei 2012 VOA Indonesia
PBBLuncurkan Kampanye untuk Akhiri Penularan HIV pada Anak, 27 Mei 2012 VOA Indonesia
Pengobatan Dini Bantu Persiapkan Sistem Kekebalan Tubuh, 27 Mei 2012 VOA Indonesia
Pil Truvada Bisa Cegah Penularan HIV, 16 Mei 2012 VOA Indonesia