TRAUMA URETER

Epidemiologi
Trauma ureter jarang terjadi, biasanya terjadi akibat tembakan atau tusukan.
Etiologi
Cedera ureter agak jarang ditemukan karena ureter merupakan struktur fleksibel yang mudah bergerak di daerah retroperitoneal dengan ukuran kecil serta terlindung dengan baik oleh tulang dan otot. Trauma ureter biasanya disebabkan oleh trauma tajam atau tumpul dari luar maupun iatrogenic. Untuk trauma tumpul pada ureter, walaupun frekuensinya sangat kecil, namun hal tersebut dapat menyebabkan terputusnya ureter, terikatnya ureter (akibat iatrogenic, seperti pada operasi pembedahan) yang bila total dapat menyebabkan sumbatan, atau bocor yang bisa menyebabkan urinoma atau fistula urine. Bila kebocoran terjadi intraperitoneal, dapat menyebabkan tanda-tanda peritonitis.
Gambaran Klinis:
          Umumnya tanda dan gejala klinis tidak spesifik.
          Hematuria, yang menunjukkan cedera pada saluran kemih.
          Bila terjadi ekstravasasi urin, dapat terjadi urinoma.
          Pada trauma tumpul gejalanya sering kurang jelas.
          Pada cedera ureter bilateral ditemukan anuria.
          Pada trauma yang disebabkan oleh akibat iatrogenic, seperti pada pembedahan, bila terjadi ureter terikat total atau sebagian, maka pasca bedah bisa ditenukan gejala-gajala febris, nyeri pinggang yang sering bersama-sama gejala ileus paralitik seperti mual, muntah.
Diagnosis:
          Pada cedera ureter akibat trauma tajam biasanya ditemukan hematuria mikroskopik.
          Pada cedera ureter bilateral terdapat peningkatan kadar ureum dan kreatinin darah.
          Lokasi cedera ureter dapat diketahui dari pemeriksaan pielografi intravena.
Terapi:
          Pada setiap trauma tajam harus dilakukan tindakan eksplorasi untuk menilai ada tidaknya cedara ureter serta cedera ikutan lain.
          Yang terpenting adalah melakukan penyaliran urin yang ekstravasasi dan menghilangkan obstruksi.
          Rekonstruksi ureter tergantung jenis, bentuk, luas, dan letak cedera.
          Untuk cedera ureter bagian atas, dilakukan uretero-ureterostomi, nefrostomi, uretero-kutaneostomi, autotransplantasi, dan nefrektomi bila rekonstruksi tidak memungkinkan.
          Cedera ureter bagian tengah, dilakukan uretero-ureterostomi atau transuretero-ureterostomi.
          Alternative rekonstruksi ureter distal adalah uretero-ureterostomi, uretero-neosistostomi, misalnya melalui tabung yang dibuat dari dinding kandung kemih yang disebut nefrostomi.


Iklan

TRAUMA GINJAL

Definisi
Trauma ginjal adalah cedera pada ginjal yang disebabkan oleh berbagai macam trauma baik tumpul maupun tajam.
Epidemiologi
Trauma ginjal merupakan trauma yang paling sering terjadi.
Etiologi dan Patofisiologi
Ada 2 penyebab utama dari trauma ginjal , yaitu
1.      Trauma tajam
2.      Trauma Iatrogenik
3.      Trauma tumpul
Trauma tajam seperti tembakan dan tikaman merupakan 10 – 20 % penyebab trauma pada ginjal di Indonesia.Baik luka tikam atau tusuk pada abdomen bagian atas atau pinggang maupun luka tembak pada abdomen yang disertai hematuria merupakan tanda pasti cedera pada ginjal. 
Trauma iatrogenik pada ginjal dapat disebabkan oleh tindakan operasi atau radiologi intervensi, dimana di dalamnya termasuk retrograde pyelography, percutaneous nephrostomy, dan percutaneous lithotripsy. Dengan semakin meningkatnya popularitas dari teknik teknik di atas, insidens trauma iatrogenik semakin meningkat , tetapi kemudian menurun setelah diperkenalkan ESWL. Biopsi ginjal juga dapat menyebabkan trauma ginjal
Trauma tumpul merupakan penyebab utama dari trauma ginjal. Dengan lajunya pembangunan, penambahan ruas jalan dan jumlah kendaraan, kejadian trauma akibat kecelakaan lalu lintas juga semakin meningkat.
Trauma tumpul ginjal dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Trauma langsung biasanya disebabkan oleh kecelakaan lalu lintas, olah raga, kerja atau perkelahian. Trauma ginjal biasanya menyertai trauma berat yang juga mengenai organ organ lain. Trauma tidak langsung misalnya jatuh dari ketinggian yang menyebabkan pergerakan ginjal secara tiba tiba di dalam rongga peritoneum. Kejadian ini dapat menyebabkan avulsi pedikel ginjal atau robekan tunika intima arteri renalis yang menimbulkan trombosis.
Klasifikasi
Tujuan pengklasifikasian trauma ginjal adalah untuk memberikan pedoman dalam menentukan terapi dan prognosis.
Grade I
Kontusio ginjal,terdapat perdarahan di ginjal tanpa adanya kerusakan jaringan,kematian jaringan maupun kerusakan kaliks. Hematuria dapat mikroskopik atau makroskopik.pencitraan normal.
Grade II
            Hematom subkapsular atau perineal yang tidak meluas, tanpa adanya kelainan parenkim.
Grade III
            Laserasi ginjal < 1 cm dan tidak mengenai pelviokaliks dan tidak terjadi ekstravasasi.
Grade IV
            Laserasi > 1cm dan tidak mengenai pelviokaliks atau ekstravasasi urin. Laserasi yang mengenai korteks,medulla dan pelviokaliks
Grade V
            Cedera pembuluh darah utama, avulsi pembuluh darah yang mengakibatkan gangguan perdarahan ginjal, laserasi luas pada beberapa tempat/ ginjal yang terbelah
Gejala Klinik
Pada trauma tumpul dapat ditemukan adanya jejas di daerah lumbal, sedangkan pada trauma tajam tampak luka.
Pada palpasi didapatkan nyeri tekan daerah lumbal, ketegangan otot pinggang, sedangkan massa jarang teraba. Massa yang cepat menyebar luas disertai tanda kehilangan darah merupakan petunjuk adanya cedera vaskuler.
Nyeri abdomen umumya ditemukan di daerah pinggang atau perut bagian atas, dengan intenitas nyeri yang bervariasi. Bila disertai cedera hepar atau limpa ditemukan adanya tanda perdarahan dalam perut. Bila terjai cedera Tr. Digestivus ditemukan adanya tanda rangsang peritoneum.
Fraktur costae terbawah sering menyertai cedera ginjal. Bila hal ini ditemukan sebaiknya diperhatikan keadaan paru apakah terdapat hematothoraks atau  pneumothoraks
Hematuria makroskopik merupakan tanda utama cedera saluran kemih. Derajat hematuria tidak berbanding dengan tingkat kerusakan ginjal. Perlu diperhatikan bila tidak ada hematutia, kemungkinan cedera berat seperti putusnya pedikel dari ginjal atau ureter dari pelvis ginjal. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan tanda shock.
Diagnostik Radiologi
Ada beberapa tujuan pemeriksaan radiologis pada pasien yang dicurigai menderita trauma ginjal, yaitu:
1.      Klasifikasi beratnya trauma sehingga dapat dilakukan penenganan yang tepat dan menentukan prognosisnya
2.      Menyingkirkan keadaan ginjal patologis pre trauma
3.      Mengevaluasi keadaan ginjal kontralateral
4.      Mengevaluasi keadaan organ intra abdomen lainnya
Pada pemeriksaan radiologis dapat ditemukan :
Grade I
·           Hematom minor di perinephric , pada IVP, dapat memperlihatkan gambaran ginjal yang abnomal
·           Kontusi dapat terlihat sebagai massa yang normal ataupun tidak
·           Laserasi minor korteks ginjal dapat dikenali sebagai dfek linear pada parenkim atau terlihat mirip dengan kontusi ginjal
·           Yang lebih penting, pencitraan IVP pada pasien trauma ginjal grade I dapat menunjukkan gambaran ginjal normal. Hal ini tidak terlalu menimbulkan masalah karena penderit grade I memang tidak memerlukan tindakan operasi .
·           Pada CT Scan, daerah yang mengalami kontusi terlihat seperti massa cairan diantara parenkim ginjal
Grade II
·           Pada IVP dapat terlihat extravasasi kontras dari daerah yang mengalami laserasi
·           Extravasasi tersebut bisa hanya terbatas pada sinus renalis atau meluas sampai ke daerah perinefron atau bahkan sampai ke anterior atau posterior paranefron.
·           Yang khas adalah, batas ;uar ginjal terlihat kabur atau lebih lebar.
·           Dengan pemeriksaan CT Scan , fraktur parenkim ginjal dapat terlihats
·           Akumulasi masif dari kontras, terutama pada ½ medial daerah perinefron, dengan parenkim ginjal yang masih intak dan nonvisualized ureter, merupakan duggan kuat terjadinya avulsi ureteropelvic junction
Grade III
·           Secara klinis pasien dalam kadaan yang tidak stabil. Kdang kadang dapat terjadi shock dan sering teraba massa pada daerah flank.dapt diertai dengan hematuria.
·           Bila pasien sudah cukup stabil, dapat dilakukan pemeriksaan IVP, dimana terlihat gangguan fungsi ekskresi baik parsial maupun total
·           Ada 2 tipe lesi pada pelvis renalis yaitu trombosis A.Renalis dan avulsi A. Renalis. Angiografi dapat memperlihtkan gambaran oklusi A.Renalis.
·           Viabilitas dari fragmen ginjal dapat dilihat secara angiografi. Arteriografi memperlihatkan 2 fragmen ginjal yang terpisah cukup jauh.fragmen yang viabel akan terlihat homogen karena masih mendapat perfusi cukup baik. Fragmen diantaranya berarti merupaka fragmen yang sudah tidak viable lagi.  
Grade IV
·           Grade IV meliputi avulsi dari ureteropelvic junction.
·           Baik IVP maupun CT Scan memeperlihatkan adanya akumulasi kontras pada derah perinefron tanpa pengisian ureter.
Sebagai kesimpulan, sampai sekarang belum ada pembatasan yang jelas kapan seorang penderita yang diduga trauma ginjal memerlukan IVP atau CT Scan sebagai pemeriksaan penunjangnya. Keputusan tersebut harus didasarkan kepada pemeriksaan manakah yang lebih tersedia.
CT San biasanya diambil sebagai pemeriksaan penunjang pertama pada psien yang mengalami trauma multiple organ intra abdomen, dan  pasien yang diduga trauma ginjal Grade III atau IV.
CT Scan berfungsi sebagai pemeriksaan kedua setelah IVP pada pasien yang pada IVP memperlihtkan gambaran kerusakan luas parenkim ginjal dan pasien yang keadaan umumnya menurun.
Terapi dan Prognosis
Lesi minor, grade 1, biasanya diobati secara konservatif. Pengobatan konservatif tersebut meliputi istirahat di tempat tidur, analgesik untuk menghilangkan nyeri, serta observasi status ginjal dengan pemeriksaan kondisi lokal, kadar hemoglobin, hematokrit serta sedimen urin.
Penanganan trauma ginjal grade 2 masih menimbulkan suatu kontroversi.  Penenganan secara konservatif, seperti yang dipilih oleh kebanyakan dokter, mengandalkan kemampuan normal ginjal untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Penenganan secara operatif biasanya dilakukan apabila pasien tidak memberikan respon positif terhadap pengobatan konservatif, seperti kehilangan darah yang terus bertambah, bertambah besarnya massa pada regio flank,  rasa sakit yang terus menerus dan disertai dengan adanya demam. Pengecualian dari indikasi diatas adalah oklusi pada A. Renalis ( grade 3 ). Tindakan konservatif ini dilakukan untuk menghindari dilakukannya tindakan nephrektomi. Sedangkan dokter yang memilih tindakan operatif secara dini mengemukakan bahwa finsidens terjadinya komplikasi lanjut dapat diturunkan dengan tindakan nephrektomi.
Penanganan trauma ginjal unuk grade 3,4,dan 5 memerlukan tindakan operatif berupa laparotomi.
Komplikasi
Komplikasi  awal: Perdarahan yang masiv sangat sering terjadi, terutama di retroperitoneal. Persisten retroperitoneal persisten atau gross hematuri yang berat, indikasi untuk dilakukan operasi.
Komplikasi lanjut: hypertensi, hydronephrosis, arteriovenous fistula, pembentukan calculus, dan pyelonephritis. renal atrophy dapat muncul dari vascular compromise dan dapat diditeksi dengan urography. Perdarahan yang berat dan lanjut dapat muncul setelah 1-4 minggu.

Kiamat Pengobatan TBC

Tuberculosis paru (TB) merupakan penyakit infeksi kronik yang telah lama menyertai sejarah manusia. Penyakit ini dihubungkan dengan tempat tinggal urbanserta lingkungan yang padat. Penemuan TB sudah diketahui sejak penemuan kerusakan tulang vertebra torak yang khas TB dari kerangka yang digali di Heidelberg dari kuburan zaman neolitikum dan ukiran dinding piramid di Mesir kuno pada tahun 2000-4000 SM. Literatur Arab: Al Razi (850-953 M) dan Ibnu Sina (980-1037M) menyatakan adanya kavitas pada paru-paru dan hubungannya dengan lesi pada kulit. Pengobatan yang dilakukan pada masa itu hanya dengan makan-makanan yang bergizi dan menghirup udara segar. Disebutkan bahwa TB sering didapat pada usia muda (18-30 tahun) dengan tanda-tanda badan kurus dan dada yang kecil.
Diagnosis penyakit ini mulai terarah ketika Robert Koch menemukan kuman penyebabnya pada tahun 1882, dia mendapatkan semacam bakteri berbentuk batang. Ditambah lagi pada tahun 1896 Rontgen menemukan sinar X sebagai alat bantu menegakkan diagnosis penyakit TB.
Sejak permulaan abad 19, insidensi penyakit tuberculosis di Eropa dan Amerika Serikat sangat besar. Di antara yang meninggal tercatat sebagai orang-orang terkenal seperti Voltaire, Sir Walter-Scott, Frederick Chopin dll. Berbagai usaha dalam menanggulangi penyakit ini masih belum berhasil. Pada tahun 1859 Brehmen di Silesia Jerman, mendirikan sanatorium dan berhasil menyembuhkan sebagian pasiennya, hal ini dicontoh oleh berbagai negara lain.
Perkembangan ilmu mikrobiologi untuk mengidentifikasi basil tahan asam M.tuberculosismeningkatkan pengetahuan dibidang imunologi. Konsep dari acquired immunity diperlihatkan dengan pengembangan vaksin TB, Bacillus Calmette Guerin (BCG) dibuat dari strain Mycobacterium bovis, ditemukan oleh Albert Calmette dan Camille Guerin yang diberikan pertamakali pada tahun 1921.
Satu persatu obat untuk eradikasi kuman TB mulai ditemukan sejak penggunaan Streptomisin. Sejak itulah muncul penemuan obat lain seperti para aminosalisilik(PAS), isoniazid yang dilaporkan oleh Robitzek dan Selikoff pada tahun 1952. Diikuti oleh Pirazinamid, ethambutol dan rifampisin.
Walaupun pengobatan TB yang sudah efektif sudah tersedia tapi sampai saat ini TB masih tetap menjadi problem kesehatan dunia yang utama. Pada 1993 WHO mendeklarasikan TB sebagai global health emergency. TB dianggap sebagai masalah kesehatan dunia yang penting karena kurang lebih sepertiga penduduk dunia terinfeksi oleh bakteri TB. Pada tahun 1998 ada 3.617.047 kasus TB yang tercatat diseluruh dunia.
Sudah sejak tahun 1950-an, Indonesia sudah melaksanakan program TB. Ada 6 obat penting dalam pengendalian TB antaralain: Isoniazid (H), paraaminosalisilic acid (PAS), Streptomisin (S), Etambutol (E), Rifampisin, dan Pirazinamid (P). Semenjak tahun 1994, semua pengobatan TB mengacu pada Directly Observed Treatment Short Course Strategy (DOTS) yang sudah direkomendasikan WHO. Program ini terus dipegang sampai sekarang, walaupun masih terdapat beberapa kendala seperti rendahnya penemuan kasus baru dan faktor risiko TB.
Program TB dibagi menjadi dua fase,yaitu fase inisial dan fase lanjutan. Panduan obat yang dipakai di Indonesia dan dianjurkan juga oleh WHO adalah: (2RHZ)/4 RH dengan varian 2 RHS/RH, 2RHZ/4R3H3, 2RHS/4R2H2. Tapi itu semua tergantung status pasien sendiri seperti tingkat keparahan, kekambuhan atau pengobatan sebelumnya yang gagal.
Sudah limapuluh tahun pengobatan dimulai, keberhasilan yang dirasakan juga meningkat. Tetapi semakin lama kuman TB menjadi kuat, resistensi terhadap antibiotika untuk TB semakin tersebar di berbagai negara. Hal ini terbukti dengan ada laporan berita dari VOA Indonesia tanggal 7 September 2012 yang berjudul “PerluPengembangan Obat TB Baru akibat Makin Banyak Kasus TB Kebal Obat”.
Peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) melaporkan adanya multi drug resisten terhadap dua obat yang sering digunakan sebagai obat lini pertama, rifampisin dan isoniazid. Namun sekarang ditemukan 6,7 persen kebal obat secara luas (XDR-TB), dimana tidak merespon sederet obat, termasuk pengobatan lini pertama, pengobatan lini kedua, seperti kuinolon dan obat suntik terbaru.
Peneliti  dari Divisi Pemberantasan TBC, Tracy Dalton, yang mengepalai penelitian ini mengungkapkan resistensi terhadap obat TB baru terdeteksi pada 44 persen penderita, dari Thailand hingga Latvia. Mudahnya mendapat obat TB baru  meningkatkan kemungkinan obat itu diminum tanpa resep dokter, sehingga bakteri TBC menjadi kurang peka terhadap obat yang lebih kuat. Prediktor terbesar tertular TB-XDR adalah pernah berobat sebelumnya.
Dalton mengemukakan pentingnya mengambil langkah-langkah segera untuk mencegah penyebaran TB-XDR, termasuk membangun fasilitas laboratorium yang lebih banyak dan lebih baik untuk menguji TBC. Jika hal ini fasilitas laboratorium sudah dapat dikembangkan diharapkan akan mengetahui status resistensi obat. Dengan penemuan ini, WHO merevisi perkiraan globat kasus TB-XDR menjadi 10 persen dari semua penderita yang didiagnosis menderita TBC resisten obat.
Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan India. Berdasarkan survei kesehatan rumah tangga 1985 dan survei kesehatan nasional 2001, TB menempati ranking nomor tiga sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional terakhir diperkirakan 0,24%.
 Indonesia mempunyai potensi untuk terjadinya XDR-TB karena pengobatan TB masih belum maksimal dengan banyaknya pasien terkena TB yang putus berobat dan penemuan kasus TB yang masih kurang. Disamping itu terdapat faktor risiko tertentu mengapa TB mudah menular antara lain kurangnya gizi, kemiskinan dan sanitasi yang buruk.
Penemuan kasus XDR-TB sepertinya mengharuskan pemerintah untuk memperkuat progran DOTS dan juga membangun fasilitas laboratorium untuk menguji resistensi antibiotik. Selain itu pengawas minum obat harus benar-benar dilaksanakan mengingat pasien kebanyakan putus berobat yang bisa menyebabkan resisten obat lagi.
Dunia khususnya Indonesia merupakan negeri tropis dengan segudang potensi kekayaan alam untuk pengembangan obat baru. Obat baru dibutuhkan karena mulai terdapat resistensi obat. Dengan jumlah penderita TBC di Indonesia yang tinggi, pengembangan obat sendiri menjadi pilihan alternatif yang baik demi mengobati penderita TB. Ditambah dengan jumlah penderita HIV dengan komplikasi TB, kemampuan vaksin BCG yang hanya dapat mengurangi terjadinya infeksi TB berat, mahalnya harga obat antibiotik, sudah saatnya Indonesia mengembangkan kekayaan negeri sendiri untuk pengobatan TB.

Pusing Tujuh Keliling alias Vertigo

Mengawali arus mudik bulan Agustus ini, kepala saya terasa pusing. Entah darimana datangnya, tanpa diundang gejala ini datang sendiri. Harap maklum, udah mau lebaran. Toh hari ini tidak akan membahas mengenai idul fitri yang sebentar lagi tiba. Disini cuma mau ngomongin si vertigo.

Menurut si Ensiklopedia bebas, saudara mbah google yaitu Eyang Wikipedia. Vertigo berasal dari bahasa Yunani, vertere yang artinya memutar, toh jangan tanya saya kok bisa dinamai seperti itu. Pengertian Vertigo adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh atau lingkungan sekitarnya, dapat disertai gejala lain, terutama dari jaringan otonomik akibat gangguan alat keseimbangan tubuh.Vertigo (sering juga disebut pusing berputar, atau pusing tujuh keliling) adalah kondisi di mana seseorang merasa pusing disertai berputar atau lingkungan terasa berputar walaupun badan orang tersebut sedang tidak bergerak.

Kalau gejalanya mungkin semua orang pernah mengalaminya, ya tahu sendirilah,”Penderita merasa seolah-olah dirinya bergerak atau berputar; atau penderita merasakan seolah-olah benda di sekitarnya bergerak atau berputar”.  Begitulah sepenggalan kalimat petuah dari eyang Wikipedia. 


Penyebab dan Diagnosa


Vertigo patogologis bisa bermacam-macam jenis. Ada yang sementara atau persisten, fungsional atau struktural penurunan nilai vestibular atau nilai visual, atau sistem proprioseptif sistem atau dari pusat integratif mealui suatu mekanisme juga menyebabkan “ketidakcocokan”. Dengan kata lain banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum menentukan diagnosis vertigo.Evaluasi vertigo memiliki dua tujuan mendasar yakni: menentukan lokalisasi sumber asalnya dan menentukan etiologinya/penyebabnya.
Sebelum memulai pengobatan, harus ditentukan sifat dan penyebab dari vertigo. Gerakan mata yang abnormal menunjukkan adanya kelainan fungsi di telinga bagian dalam atau saraf yang menghubungkannya dengan otak. Nistagmus adalah gerakan mata yang cepat dari kiri ke kanan atau dari atas ke bawah. Arah dari gerakan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosa. Nistagmus bisa dirangsang dengan menggerakkan kepala penderita secara tiba-tiba atau dengan meneteskan air dingin ke dalam telinga. Untuk menguji keseimbangan, penderita diminta berdiri dan kemudian berjalan dalam satu garis lurus, awalnya dengan mata terbuka, kemudian dengan mata tertutup.Tes pendengaran seringkali bisa menentukan adanya kelainan telinga yang memengaruhi keseimbangan dan pendengaran.Pemeriksaan lainnya adalah CT scan atau MRI kepala, yang bisa menunjukkan kelainan tulang atau tumor yang menekan saraf. Jika diduga suatu infeksi, bisa diambil contoh cairan dari telinga atau sinus atau dari tulang belakang. Jika diduga terdapat penurunan aliran darah ke otak, maka dilakukan pemeriksaan angiogram, untuk melihat adanya sumbatan pada pembuluh darah yang menuju ke otak.

Jenis

Vertigo vestibuler

Memiliki karakteristik: lesi di bagian perifer dari apparatus vestibuler seperti: organ vestibuler atau saraf vestibulokolear. Pasien merasa lingkungan sekitarnya berputar (oscillopsia),rasanya naik turun seperti berada di atas kapal. Vertigo vestibuler seringkali diikuti dengan gejala otonom seperti nausea dan muntah serta nistagmus. Lesi vestibuler juga ada yang di bagian sentral contohnya lesi pada nukleus vestibuler di batang otak. Lesi sentral vestibuler juga bisa menyebabkan vertigo direk, akan tetapi secara umum lebih ringan dibandingkan lesi perifer. Gejala otonom juga cenderung lebih minim atau bahkan tidak ada.

Vertigo nonvestibuler

Vertigo nonvestibuler seringkli sulit dideskripsikan secara jelas oleh pasien. Pasien biasanya mengeluhkan rasa pusing, kekosongan di kepala, dan gelap pada mata. Kondisi oscillopsia dan gejala otonom tidak pernah ditemukan. Lesi pada bagian saraf pusat dapat menyebabkan nistagmus patologis Vertigo nonvestibuler bisa disebabkan lesi pada bagian nonvestibuler dari sistem regulator keseimbangan atau bisa juga disebabkan kesalahan proses informasi di sistem saraf pusat(misal karena lesi cerebelar). Hipotensi ortostatik dan stenosis aorta dapat menjadi penyebab vertigo nonvestibuler.

Pengobatan

Pengobatan tergantung kepada penyebabnya.Obat untuk mengurangi vertigo yang ringan adalah meklizin, dimenhidrinat, perfenazin dan skopolamin. Skopolamin terutama berfungsi untuk mencegah motion sickness, yang terdapat dalam bentuk plester kulit dengan lama kerja selama beberapa hari. Semua obat di atas bisa menyebabkan kantuk, terutama pada usia lanjut. Skopolamin dalam bentuk plester menimbulkan efek kantuk yang paling sedikit. Asal jangan ngawur cari obat pusing di warung sebelah ya!!!!!



Ini cuma ikut petuah dari Eyang Wikipedia, penulis blog tidak bertanggungjawab atas segala kebenaran dalam tulisan ini. silahkan mencari referensi lebih valid lagi. Lagipula tulisan ini cuma untuk ngisi blog ini supaya tidak terkesan rumah tanpa penghuni.

Sayonara

Perdagangan Satwa Liar Kian Eksis di Dunia Maya

Sunggguh sedih, ketika saya membaca berita dari VOA Indonesia yang berjudul “LSM: Modus Baru Perdagangan Satwa Liar Marak”. Betapa tidak, perdagangan satwa liar kini merambah dunia internet dan melibatkan komunitas-komunitas yang mengklaim sebagai pecinta satwa. Seperti yang dikatakan oleh Ketua Lembaga Satwa Irma Harwati, perdagangan satwa melalui internet yang kian marak menyebabkan pelaku sulit ditangkap karena menggunakan kurir atau jasa pengiriman dalam menjalankan bisnisnya. Ditambahkan lagi olehnya, ada modus baru dalam penjualan satwa liar yakni melalui komunitas-komunitas yang menamakan diri pecinta satwa, komunitas-komunitas ini diduga melakukan perdagangan satwa liar yang seharusnya dilindungi.
Perdagangan satwa liar terus meningkat karena selama ini para pelaku perdagangan satwa liar hanya dikenakan hukuman penjara dan denda yang tidak maksimal dan ini menyebabkan tidka adanya efek jera bagi pelaku perdagangan satwa liar. Melihat hal ini, sepertinya hukum untuk menindak pelaku belum cukup efektif, sama seperti hukuman untuk para koruptor.
Perdagangan satwa liar menjadi ancaman serius bagi kelestarian satwa liar Indonesia.Berdasarkan data dari International Union for Conservation Nature pada tahun 2003 menyatakan satwa liar Indonesia yang terancam punah adalah 147 jenis mamalia, 114 jenis burung, 28 jenis reptil, 91 jenis ikan dan 28 jenis hewan tanpa tulang belakang (invertebrata). Jumlah yang sangat besar, jika tidak ditangani dengan serius mungkin nasibnya akan sama dengan harimau jawa dan bali yang telah benar-benar punah.
Organisasi lingkungan WWF mengatakan Vietnam, Cina dan Thailand merupakan pelangar terburuk dalam perdagangan gelap satwa yang terancam punah. Sedangkan Indonesia, hanya perlu menghitung hari jika perdagangan satwa liar tidak dihentikan.
Perdagangan satwa liar yang mulai merambah dunia bisnis online, membuat Irma Harwati meminta Kementerian kehutanan dan Kementerian Komunikasi dan informatika untuk serius menangani masalah ini.
Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika Gatot Dewa Broto mengungkapakan meskipun saat ini banyak perdagangan satwa liar melalui internet, pemerintah belum bisa melakukan pemblokitan karena dalam Undang-undang informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) tidak ada pasal yang melarang soal hal ini. Gatot menambahkan jika adalah keprihatinan dari sejumlah masyarakat, LSM, lembaga advokasi dan berbagai pihak, perlu disampaikan kepada DPR agar masalah ini dpaat dituangkan di dalam revisi UU ITE. Sepertinya masih ada harapan jika masyarakat masih peduli dengan nasib hewan liar.
Pelestarian satwa liar dan habitatnya tidak bisa dilakukan oleh pemerintah dan organisasi pecinta lingkungan saja, namun perlu dukungan dan partisipasi dari semua pihak. Kita dapat melakukannya sendiri tanpa harus terjun di pasar hewan atau hutan. Ada banyak cara yang dapat kita lakukan dalam membantu upaya pelestarian satwa liar dan habitatnya, antara lain:
·         Jangan beli satwa liar dan produknya
Sebagian besar satwa liar merupakan hasil dari penangkapan ilegal di alam. Semakin banyak satwa yang dijual, maka semakin banyak pula satwa liar yang ditangkap dari alam, yang pada akhirnya bisa mengarah pada kepunahan. Dengan tidak membeli satwa liar Indonesia dan negara lain, anda telah membantu pelestarian satwa liar.
Selain dijual dalam keadaan hidup untuk peliharaan, satwa liar juga dijual dalam bentuk bagian-bagian tubuhnya atau yang sudah diolah menjadi bentuk kerajinan. Jangan pernah membeli kerajinan yang mengandung satwa liar, karena ini juga memincu terjadi perburuan satwa liar dari alam.
·        Laporkan perdagangan ilegal ke pihak terkait
Jika anda melihat praktek ilegal perdagangan satwa liar di Indonesia, laporkan ke polisi atau petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang terdekat.
·         Donasi
Ada beberapa organisasi nonporfit yang mendukung pelestarian satwa liar di Indonesia, anda dapat berpartisipasi dalam organisasi mulai dari memberikan bantuan uang hingga ikut bergabung dan turun langsung ke lapangan. Dengan sumbangan yang diberikan, organisasi pecinta lingkungan dapat berbuat lebih banyak dalam menjaga  pelestarian satwa liar dan habitatnya.
·        Hijaukan halaman rumah anda
Ini langkah yang paling gampang, tanamlah pepohonan dilingkungan sekitar anda, anda dapat mendengar kicauan burung dengan nyanyiannya yang indah sebagai balas jasa anda telah menanam pohon.
Dengan banyaknya perdagangan satwa liar yang merambah internet, anda dapat turut serta mengawasinya lewat internet. Tentu juga kita berharap banyak bahwa pemerintah benar-benar merevisi UU ITE sehingga perdagangan satwa liar via internet dapat dicegah.Semua orang dapat mencegah perdagangan satwa liar, maka dari itu berawal dari diri sendiri, nasib satwa liar dapat kita selamatkan. Dengan demikian alam Indonesia akan terus lestari, bahkan terus eksis didunia maya hingga generasi yang akan datang.

SINDROMA GOODPASTURE

DEFINISI
Sindroma Goodpasture (Sindroma Ginjal Paru) adalah suatu bentuk glomerulonefritis (peradangan glomerulus ginjal) yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal yang progresif, disertai batuk darah.
PENYEBAB
Penyebab yang pasti tidak diketahui, merupakan suatu penyakit autoimun (sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh yang normal).
Kadang penyakit ini dipicu oleh suatu infeksi virus atau karena menghirup pelarut hidrokarbon.
Penderita sindroma Goodpasture menghasilkan antibodi terhadap sistem penyaringan di ginjal dan terhadap alveoli dan kapiler di paru-paru.
Antibodi ini ditimbun di dasar selaput glomerulus ginjal dan alveoli paru, serta memicu terjadinya peradangan ginjal dan perdarahan paru.
GEJALA
Antibodi yang tertimbun di paru menyebabkan perdarahan di dalam jaringan paru, sehingga penderita mengalami batuk darah. Sesak nafas timbul setelah penderita melakukan aktivitas.
Bisa terjadi anemia karena kekurangan zat besi maupun anemia karena gagal ginjal.
DIAGNOSA
Pemeriksaan paru dengan menggunakan stetoskop menunjukkan adanya cairan di paru–paru (yang berasal dari perdarahan di dalam jaringan paru).
Tekanan darah bisa tinggi. Sejalan dengan semakin memburuknya fungsi ginjal, bisa terjadi edema (pembengkakan). Pada beberapa penderita ditemukan ruam kulit.
Pemeriksaan penunjang:
  Pemeriksaan darah (ditemukan antibodi, anemia)
  Tes fungsi ginjal
  Analisa air kemih (menunjukkan adanya darah dan protein)
  Pemeriksaan antibodi serum pada selaput dasar glomerulus
  Pemeriksaan dahak (bisa ditemukan adanya makrofag, yang merupakan sel pada sistem kekebalan, hal ini merupakan respon terhadap adanya antibodi)
  Rontgen dada (menunjukkan adanya cairan di dalam jaringan paru)
  Biopsi paru
  Biopsi ginjal (menunjukkan adanya penimbunan antibodi dengan pola yang khas).
PENGOBATAN
Pengobatan dipusatkan pada usaha untuk memperlambat perkembangan penyakit. Hal ini paling efektif jika dilakukan sedini mungkin, sebelum fungsi ginjal sangat menurun sehingga perlu dilakukan dialisa.
Untuk mengurangi respon kekebalan, diberikan corticosteroid atau obat anti-peradangan lainnya.
Immunosupresan (obat penekan respon kekebalan), seperti cyclophosphamide, digunakan secara agresif untuk mengurangi efek pada sistem kekebalan.
Plasmaferesis adalah suatu prosedur dimana plasma darah dikeluarkan dari tubuh dan diganti dengan cairan atau plasma dari donor.
Plasmaferesis dilakukan setiap hari selama 2 minggu atau lebih, untuk membuang antibodi yang terdapat di dalam perdaran darah.
Jika fungsi ginjal sudah memburuk, mungkin perlu dilakukan dialisa. Pencangkokan ginjal akan memberikan hasil yang memuaskan jika dilakukan setelah selama beberapa bulan tidak ditemukan antibodi di dalam darah.
PENCEGAHAN
Hindari menghirup lem atau uap bensin karena bisa memicu terjadinya sindroma ini.